Pembuka
Sebelum kegiatan Pra-ASAJ (Asesmen Sumatif Akhir Jenjang) ini benar-benar dimulai, aku merasa seperti sedang menyiapkan diri untuk sebuah petualangan besar yang akan menentukan arah masa depanku. Persiapan awal yang aku lakukan dimulai dari kegiatan mandiri, seperti merapikan kembali tumpukan materi yang selama ini hanya tersimpan rapi di tas, hingga mulai membuat jadwal belajar kecil-kecilan agar tidak ada materi yang terlewat. Tujuan utama aku mengikuti kegiatan ini sebenarnya bukan hanya sekadar mengejar nilai, tapi lebih kepada keinginan untuk menguji sejauh mana kemampuanku bertahan di bawah tekanan sebelum ujian yang sesungguhnya tiba. Namun, sejujurnya, perasaan yang aku rasakan sebelum kegiatan ini dimulai benar-benar campur aduk. Ada rasa gelisah yang muncul setiap kali aku teringat akan tanggung jawab sebagai siswa tingkat akhir, ada sedikit rasa tidak percaya diri saat melihat teman-teman lain yang tampak begitu siap, dan tentu saja ada ketakutan akan kegagalan yang terkadang menghantui pikiranku. Rasanya seperti ada beban berat di pundak yang menuntutku untuk selalu tampil sempurna, padahal aku tahu proses belajar itu tidak pernah ada yang instan.
Kegiatan Pra-ASAJ ini dilaksanakan tepat di dalam kelas kita masing-masing pada minggu lalu. Berada di lingkungan kelas sendiri memberikan kenyamanan ekstra buat aku, karena aku tidak perlu merasa asing dengan suasana ruangan. Tahapan kegiatannya dimulai dari pengarahan teknis yang diberikan oleh guru wali kelas dengan cara yang cukup santai, lalu dilanjutkan dengan belajar terlebih dahulu secara mandiri, setelah itu mulai lanjut ke pengerjaan soal. Alat dan media yang aku gunakan cukup beragam, mulai dari laptop, ponsel, dan tablet untuk mengakses sistem ujian digital melalui Sokrates, hingga buku-buku referensi yang halamannya sudah mulai menguning karena sering dibuka. Penggunaan teknologi ini sangat membantuku, meskipun terkadang ada kendala sinyal internet yang naik-turun di area kelas. Suasana kelas yang biasanya dipenuhi tawa dan obrolan ringan, tiba-tiba berubah menjadi ruang yang penuh konsentrasi namun tetap terasa hangat karena kebersamaan kita semua. Aku belajar bahwa tempat yang paling nyaman untuk berjuang adalah di tempat di mana kita biasa berbagi cerita setiap harinya. Semangat kebersamaan itulah yang membuat langkah pertamaku di Pra-ASAJ ini terasa jauh lebih mantap dan penuh harapan.
Kegiatan
Selama menjalani proses Pra-ASAJ di kelas, tentu saja tidak semuanya berjalan mulus tanpa hambatan. Kendala terbesar yang aku hadapi adalah masalah manajemen waktu, aku seringkali terlalu asik memikirkan satu soal yang sulit sampai lupa bahwa waktu terus berjalan dengan cepat. Selain itu, rasa jenuh dan kelelahan fisik karena jadwal yang padat terkadang membuat fokusku buyar di tengah jalan. Solusi yang aku terapkan saat itu adalah dengan mencoba lebih tenang dan melakukan teknik pernapasan setiap kali merasa panik. Aku juga belajar untuk lebih terbuka dan berani berdiskusi dengan teman-teman atau bertanya kepada guru jika ada instruksi yang tidak aku mengerti. Pengalaman yang paling berkesan bagiku adalah saat kita semua merasa buntu menghadapi sebuah soal yang sangat rumit, lalu tiba-tiba ada momen unik di mana sebuah candaan kecil dari teman bisa mencairkan suasana dan malah memicu ide-ide segar muncul di kepala kami. Momen sulit itu justru menjadi hal yang menarik karena kita melewatinya bersama-sama, saling menguatkan dan tidak membiarkan satu orang pun merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan soal yang ada.
Dari seluruh rangkaian kegiatan ini, aku mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru yang sangat berharga bagi perkembangan diriku. Secara akademis, aku kini lebih memahami bagaimana konsep-konsep mata pelajaran ternyata sangat berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, seperti cara berpikir kritis yang bisa aku terapkan saat mengambil keputusan penting. Aku juga mendapatkan keterampilan baru dalam mengelola emosi dan mengatur skala prioritas tugas. Sebagai bentuk refleksi diri, aku menyadari bahwa kelebihanku terletak pada ketekunan untuk terus mencari solusi, namun kekuranganku adalah aku masih sering merasa cemas jika melihat waktu hampir habis. Sikap yang harus aku perbaiki ke depannya adalah aku harus lebih percaya pada kemampuan diriku sendiri dan tidak terlalu perfeksionis yang berlebihan. Cara aku meningkatkan diri adalah dengan rutin melakukan latihan simulasi secara mandiri dan menjaga pola hidup yang lebih teratur agar kesehatan fisik dan mentalku tetap terjaga. Pra-ASAJ di kelas ini benar-benar mengajarkanku bahwa setiap usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil asalkan kita mau belajar dari setiap kesalahan yang kita buat. Sekarang, aku merasa jauh lebih siap dan bersemangat untuk menghadapi tantangan ujian yang sebenarnya dengan kepala tegak.
.jpg)
Comments
Post a Comment